Rabu, 24 Februari 2016

Review Film Dilarang Masuk! - "Seram dan Kocaknya Pecah..!!"


Premiere pertama kali di Medan pada 24 Februari kemarin, Nayato Fio Nuala bekerja sama dengan Digital Film Media merilis film bergenre horor komedi terbaru mereka berjudul ‘DILARANG MASUK..!’

Loh, kenapa dilarang masuk?


Emang ada apaan, sih?


Kali ini saya akan mengulik film yang dibintangi oleh Sahila Hisyam, Jordi Onsu, Rayn Wijaya, Maxime Bouttier, Jessica Torsten, Yova Gracia dan banyak artis lainnya, yang baru saja menggelar acara nonton bareng mereka di Plaza Thamrin Medan pada hari Rabu siang. Meski cuma dihadiri oleh ketiga bintangnya, Rayn Wijaya, Jordi Onsu, dan Yova Gracia, tapi antusiasme penonton yang memenuhi bioskop sangatlah besar, termasuk saya yang kesana kemari (udah kaya Ayu ting-ting mencari alamat) berfoto bersama pemeran film Dilarang Masuk. Hihihi.


Mengambil tema anak sekolahan, cerita berawal dari hilangnya Lisa, seorang murid pindahan yang cenderung pendiam. Berita langsung tersebar dan menggegerkan sekolah.

Adit (Maxime Bouttier) yang melihat Lisa terakhir kali di lantai atas sekolah saat sedang merekam dengan kamera handycam miliknya, berinisiatif untuk mencari Lisa bersama kelima temannya.


Awalnya mereka ragu untuk naik ke lantai atas yang terkunci karena ada tulisan dilarang masuk, tetapi demi mencari Lisa, mereka mengumpulkan keberanian untuk menyelinap kesana pada malam hari. Bukannya menemukan Lisa, keenam siswa sekolah ini malah dihantui dengan berbagai kejadian aneh sepulangnya mereka dari lantai atas.


Dikemas dengan lucu film ini berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak sekaligus menjerit ketakutan setiap hantunya muncul tiba-tiba di depan layar. Kalian mungkin akan banyak mendengar celetukan-celetukan berbahasa Thailand dari Piyu (Jordi Onsu) yang super duper lucu, ditambah lagi bando anehnya yang buat perut saya mules tertawa. Ceplas ceplosnya Bang Jono, si sekuriti sekolah, yang diperankan oleh Reymon Knuliqh saat berulang kali diwawancarai oleh Adit dan teman-temannya turut menjadi hiburan segar.


Buat yang parno dengan film horor Indonesia yang sering dikaitkan dengan hal berbau ‘dewasa’, tak usah cemas, karena film ini murni aman ditonton para remaja.


Lalu apakah Adit dan kelima temannya berhasil menemukan Lisa? Misteri apa yang sebenarnya tersimpan di lantai atas sekolah sehingga membuatnya terlarang dimasuki?

Naaah, kalau mau ngerasain kocaknya film ini, yuk mampir ke bioskop di tanggal 24 Maret 2016 serentak di seluruh Indonesia!



Azimi Denisa Mariz – Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) Medan

Rabu 24 Februari 2016

@Plaza Thamrin XXI Cinema - Medan


Biar makin penasaran ini saya suguhin link trailernya yak. Cekidot!!




Selalu ada Bonus Pics:



(Jordi Onsu saat di Nobar film Dilarang Masuk @Plaza Thamrin Medan)




(Dikasi ucapan 'Semangat' juga dari Rayn. Thankyuuu. hehehe. Adek kalau udah dapat semangat gini rasanya mau jahit kebaya wisuda aja besok *eeh*)

(Dapat Merchandise karena udah berhasil jawab kuisnya di akhir acara nobar)

Review film I AM HOPE – “Harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur”



Apa yang akan kamu lakukan jika hidupmu divonis tinggal delapan bulan lagi?

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu semua cita-cita yang kamu mimpikan akan hancur terkubur hanya karena satu kata: KANKER.

Menghadirkan sebuah perjuangan hidup seorang gadis pengidap kanker paru-paru bernama Mia (Tatjana Saphira), film garapan sutradara sekaligus suami dari artis Wulan Guritno, (Adilla Dimitri) ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi lewat film berjudul ‘I am Hope’.

Pada 23 Februari lalu, saya dan beberapa teman blogger yang tergabung dalam Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) Medan, berkesempatan untuk nonton bareng film ‘I am Hope’ sekaligus meet and greet dengan sutradara dan para pemain.


            (Meet and Greet dengan kru dan pemain film ‘I am Hope’ di Hermes XXI Medan)

Naskah yang dikerjakan oleh Adilla dan temannya Renaldo Samsara, mengisahkan tentang Mia yang hanya tinggal berdua dengan Ayahnya (Tio Pakusadewo) setelah kepergian sang Ibu (Feby Febiola) yang menderita penyakit kanker. Hari-hari mereka jalani dengan sederhana dan bahagia, hingga suatu hari di usia 23 tahun Mia divonis penyakit yang sama dengan yang telah merenggut nyawa ibunya.

Adegan yang membuat saya tak sadar menangis ketika menonton film ini adalah saat melihat reaksi sang Ayah begitu mengetahui bahwa putri kesayangannya ternyata mengidap kanker.

Saya pribadi mengetahui betul bagaimana perasaan sang Ayah saat itu karena 2 tahun yang lalu saya juga telah kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat saya sayangi karena penyakit tersebut. Rasa terpukul dan sedih saat itu juga seolah menghipnotis saya sehingga air mata pun tak henti berlinang.

Jalan cerita dan musik pengiring yang dikemas dengan sangat apik mampu menghanyutkan para penonton menikmati setiap adegan, bahkan momen yang paling saya suka disaat Tio pakusadewo dan Tatjana menyanyikan lagu ‘Kidung’-nya Chrisye saat ulang tahun Mia dengan petikan gitar dan latar sederhana: sepiring kue di ruang tamu dan sepasang Ayah dan Anak yang tampak hidup bahagia, bernyanyi berdua.

Tokoh-tokoh lain dalam film ini juga sangat menunjang jalannya cerita. Seperti saat kondisi emosional Mia menurun, sosok Maia (Alessandra Usman) teman imajiner Mia muncul untuk memberikan semangat padanya. Lalu ada David (Fahry Albar), lelaki yang hanya melakukan sesuatu yang ia sukai, begitu peduli pada Mia dan membantu Mia mewujudkan mimpinya.

(Maia dan Mia, cuplikan film I am Hope)

Ada yang menarik dari judul film yang diproduseri oleh Wulan Guritno ini, yaitu kata ‘I am Hope’ yang dalam bahasa Indonesia diartikan: ‘aku adalah harapan’. Kalimat itu seolah menyatakan jika ‘harapan’ adalah benda yang hidup, nyata, dan bisa berdiri sendiri. Harapan Mia yang muncul dalam sosok Maia adalah bukti jika harapan itu bisa membuat seseorang bangkit meski dia dalam titik terendah sekalipun, karena Ibu Mia selalu berpesan “dimana ada keberanian disitu ada harapan”.

Ketotalan akting pemain dan dukungan untuk film ini bisa dilihat dari banyaknya artis-artis yang terlibat dalam penggarapannya, sebut saja Aryo Wahab, Fauzi Badilla, Janna Soekasah dan Amanda Soekasah, Ray Sahetapi, Kenes Andari. Kemudian ada pula artis-artis pendukung yang memang tampil hanya sepersekian detik tapi sangat menunjukkan kontribusinya seperti Aming, Prisia Nasution, Sandra Dewi, dan masih banyak lagi.

Secara keseluruhan ‘I am Hope’ merupakan film yang layak direkomendasi untuk ditonton. Bukan hanya dari segi hiburan dan tampilan yang bagus, melainkan juga tujuan mulia dari pembuatan film sebagai aksi sosial untuk memperjuangkan para pengidap dan pejuang kanker yang ada di Indonesia.

I am Hope adalah perjuangan. I am Hope butuh dukungan dari kita semua agar pesan yang disampaikan melalui filmnya dapat tersalurkan kepada dunia bahwa harapan selalu ada, bahkan untuk seorang pengidap kanker. Mari terus dukung para pejuang kanker dengan menonton film I am Hope. Saya yakin dan percaya dengan mendukung film I am Hope akan menjadi jalan terang bagi seluruh survivors dan warriors kanker Indonesia hingga ke seluruh dunia. Yuk nonton!


Azimi Denisa Mariz – Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) Medan
Selasa 23 Februari 2016
@Hermes XXI Cinema – Medan

Sekalian saya kasi link trailernya biar bisa siapin tisu sebelum nonton.